Orang tua Indonesia terpecah dalam hal mengkriminalisasi hukuman fisik

Orang tua Indonesia terpecah dalam hal mengkriminalisasi hukuman fisik
by

Tujuh dari sepuluh menggunakan hukuman fisik terhadap anak-anak mereka sendiri

Meski pendisiplinan anak secara fisik tidak dianggap melanggar di Indonesia, para orang tua Indonesia terpecah mengenai apakah ini sesuatu yang patut, temuan penelitian YouGov terbaru.

Sepertiga (32%) orang tua beranggapan bahwa hukuman fisik harus ditetapkan sebagai suatu pelanggaran hukum, dan jumlah yang sama (32%) beranggapan sebaliknya. Sisa sepertiga (33%) darinya ragu. Orang tua yang tidak menggunakan hukuman fisik di rumah lebih memilih untuk mengkriminalisasinya dibandingkan mereka yang melakukannya. (44% vs 28%).

Meskipun tidak semua orang tua setuju tentang apakah hukuman fisik harus ditetapkan sebagai pelanggaran hukum, mayoritas (73%) melakukan disiplin fisik di rumah. Satu dari tujuh (14%) sering melakukan hal ini, sementara tiga dari sepuluh (30%) terkadang melakukan hal ini, dan sisanya tiga dari sepuluh (29%) jarang melakukannya. Seperempat (25%) tidak pernah menghukum anak-anak mereka secara fisik. Kelompok status sosial ekonomi rendah lebih berkemungkinan untuk menghukum anak-anak mereka secara fisik dibandingkan kelompok status sosial ekonomi atas (82% vs 70%).

Delapan dari sepuluh (82%) orang tua Indonesia merupakan sasaran hukuman fisik saat mereka tumbuh dewasa. Data menunjukkan bahwa mereka yang tumbuh dengan hukuman fisik akan jauh lebih mungkin untuk melakukan hukuman yang sama terhadap anak-anak mereka sendiri, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalaminya (82% vs 36%).

Hampir setengah (46%) orang tua Indonesia beranggapan bahwa hukuman fisik sama dengan penganiayaan anak. Anehnya, mereka yang merupakan sasaran hukuman fisik saat masa kanak-kanak cenderung menganggapnya bukan sebagai penganiayaan anak, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalaminya (43% vs 66%).

Secara keseluruhan, lebih dari setengah (55%) orang tua beranggapan bahwa hukuman fisik terkadang diperlukan. Namun, jumlah yang sama (52%) meyakini bahwa hal tersebut dapat memperburuk masalah perilaku.

Jake Gammon, Kepala Omnibus APAC di YouGov Omnibus menyatakan: “Gaya pengasuhan anak berbeda-beda, dan pertanyaan apakah seorang anak perlu dijadikan sasaran hukuman fisik adalah apa yang cenderung memicu perdebatan. Meskipun tampaknya sebagian besar orang tua Indonesia merasa nyaman dengan mendisiplinkan anak-anak mereka secara fisik di rumah, namun mereka terpecah dalam hal anggapan apakah hukum harus dilibatkan.”

***Hasil didasarkan pada 1,231 orang tua Indonesia yang disurvei oleh YouGov Omnibus