Survey YouGov mengenai Kabut Asap Asia Tenggara Beberapa Bulan Terakhir

Survey YouGov mengenai Kabut Asap Asia Tenggara Beberapa Bulan Terakhir
Oleh

Penduduk dari banyak negara Asia Tenggara harus mengatasi berbagai macam dampak dari kabut asap -- yang disebabkan oleh kebakaran hutan di regional tersebut -- pada beberapa bulan terakhir. Sementara kabut asap akhirnya telah berhasil dijinakkan, ini bukanlah kali pertama Asia Tenggara berurusan dengan kabut asap, dan menyuarakan berbagai pendapat mengenai siapakah yang seharusnya bertanggung jawab pada peristiwa ini.

YouGov menyelenggarakan survei untuk menyelidiki bagaimana kabut asap mempengaruhi kebiasaan dan perilaku penduduk regional. Kami mensurvei 7,536 responden Asia Pasifik secara online pada 17-23 November 2015. Semua data dikumpulkan dari panelis YouGov dan telah dibobot agar representatif terhadap populasi online.

Kesadaran mengenai Kabut Asap Hampir Menyeluruh di Asia Tenggara

78% orang Asia mengatakan bahwa mereka menyadari adanya kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan di Indonesia. Kesadaran paling rendah ditemukan di Hong Kong (48%) dan Cina Daratan (44%). 

Kabar Baik bagi Produsen Masker: Dua-pertiga Penduduk Indonesia, Malaysia, dan Singapura Menggunakan Masker Selama Kasus Kabut Asap Terjadi.

65% penduduk Indonesia, Malaysia, dan Singapura menggunakan masker untuk menghindari terhirupnya udara berpolusi selama periode kabut. Di antara mereka yang TIDAK menggunakan masker, 39% berpendapat bahwa mereka tidak membutuhkan masker, 38% berpendapat bahwa mereka tidak nyaman menggunakan masker, dan 18% berpendapat bahwa masker tidak bisa melindungi mereka dari polutan dalam udara.

Sebagian Besar Responden Berpendapat bahwa Perusahaan Minyak Sawit Bertanggung Jawab terhadap Kebakaran Hutan yang Menyebabkan Kabut Asap

Di antara mereka yang menyadari adanya kabut asap, 58% berpikir bahwa pembakaran lahan yang dilakukan oleh perusahaan minyak sawit adalah penyebab utama kebakaran di Indonesia. Sebanyak 48% berpikir bahwa kebakaran terjadi karena pembakaran lahan yang dilakukan oleh petani. Dan 44% berpikir bahwa penyebab kebakaran hutan Indonesia adalah musim kering.

Ketika ditanyai pendapat mengenai siapa yang bertanggung jawab terhadap kebakaran yang menyebabkan kabut asap, 63% responden berpendapat bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab perusahaan minyak sawit. Jumlah yang hampir setara, 62%, berpendapat bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab Pemerintah Indonesia. Dan 18% berpendapat bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab perusahaan yang menggunakan minyak sawit dalam produk mereka.

Dua dari tiga penduduk Asia (67%) berpikir bahwa Pemerintah Indonesia belum melakukan upaya yang cukup untuk menyelesaikan masalah kabut asap, karena pemerintah seharusnya masih bisa berbuat lebih untuk memastikan lancarnya pelaksanaan hukum yang melarang pembakaran lahan untuk persiapan lahan penanaman sawit. Di antara penduduk Indonesia sendiri, respon terhadap hal ini cukup beragam: 45% penduduk Indonesia percaya bahwa Pemerintah Indonesia masih bisa melakukan lebih untuk menanggulangi masalah kabut asap, namun 44% penduduk Indonesia berpendapat bahwa pemerintah mereka telah melakukan segala upaya yang cukup dengan memberlakukan peraturan yang melarang pembakaran hutan untuk membersihkan lahan.

Kami juga menanyakan responden Asia apa yang bisa dilakukan pemerintah negara lain atau pihak lain untuk membantu menanggulangi masalah kabut asap. 65% responden Asia berpendapat bahwa pemerintah negara lain dapat melakukan lebih dalam hal investasi pengecekan dan penegakan larangan membakar hutan untuk persiapan lahan. Separuh responden (51%) setuju bahwa perusahaan harus dapat memastikan bahwa minyak sawit yang digunakan dalam produk mereka tidak berkontribusi dalam deforestasi. 42% setuju bahwa konsumen harus meyakinkan produsen bahwa penting bagi mereka untuk menggunakan minyak sawit yang tidak berkontribusi dalam deforestasi.

Satu-dari Lima Orang (20%) di Indonesia, Malaysia, dan Singapura Menderita Masalah Kesehatan karena Kabut Asap dan Perlu Berobat ke Dokter Karenanya

Selama kabut asap, 57% penduduk Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengaku bahwa mereka lebih banyak tinggal dalam rumah, dan 43% mengaku lebih banyak beraktivitas dalam ruangan. Hanya 13% yang mengaku bahwa kabut asap tidak berdampak sama sekali dalam gaya hidup mereka.

Sementara 43% responden di tiga negara tersebut mengaku tidak memiliki masalah kesehatan akibat kabut asap, sebanyak sepertiga (32%) menderita masalah kesehatan akibat kabut asap (meskipun tidak merasa perlu berobat ke dokter) dan seperlima (20%) menderita masalah kesehatan akibat asap dan harus berobat ke dokter karenanya.

Hampir 70% Penduduk Asia akan Menghindari Berkunjung ke Negara yang Terdampak Kabut Asap

Kabut asap telah mengubah kebiasaan bepergian penduduk Asia Pasifik. 68% berkata bahwa mereka hanya akan mengunjungi kota/negara yang tidak terkena kabut asap. Hanya 7% responden yang akan tetap berkunjung ke kota/negara yangg terkena kabut asap dan berpendapat bahwa kabut asap bukan masalah bagi mereka. 18% lainnya masih akan mengujungi kota/negara yang terkena kabut asap untuk urusan bisnis, mengunjungi anggota keluarga, atau karena mereka sudah terlanjut membayar untuk perjalanan mereka.

Klik di sini untuk mengunduh infografiknya.