Rekruiter waspadalah! Satu dari lima orang di APAC mengakui telah berbohong di CV mereka

Rekruiter waspadalah! Satu dari lima orang di APAC mengakui telah berbohong di CV mereka
Oleh

YouGov menemukan bahwa kebohongan paling umum yang dikatakan oleh orang-orang adalah tentang pengalaman dan minat pribadi mereka

Riset baru  YouGov  menemukan bahwa seperlima (18%) warga APAC mengakui telah berbohong di CV mereka (selain itu 5%  mengatakan bahwa mereka "lebih suka tidak menjawab"). Tetapi, apa saja kebohongan yang mereka katakan?

Hasilnya menunjukkan bahwa, pertama dan terutama, pengalaman adalah bagian CV yang paling cenderung dipoles, dengan empat dari sepuluh (44%) orang yang memoles resume telah berbohong tentang hal ini.

Orang-orang yang khawatir tidak terdengar terlalu menarik di bagian "minat pribadi" pada resume mereka harus memerhatikan bahwa bagian ini juga cukup umum dipalsukan, dengan tiga dari sepuluh (32%) pembohong CV mengakui telah berbohong di bagian ini. Kebohongan umum lainnya di CV antara lain lamanya responden bekerja di suatu pekerjaan (30%) dan pendidikan atau kualifikasi mereka (30%).

Pencari kerja berusia tua lebih cenderung berbohong tentang usia mereka

Meskipun menghabiskan lebih sedikit waktu di pasar kerja, generasi muda lebih cenderung berbohong di CV mereka secara keseluruhan; hanya satu dari tujuh (14%) responden berusia 45 tahun ke atas yang pernah berbohong di CV, dibandingkan dengan satu dari lima (20%) responden berusia di bawah 45 tahun.

Akan tetapi, di antara orang-orang yang pernah berbohong di CV, pencari kerja berusia tua cenderung mengatakan lebih banyak kebohongan. Secara khusus, pencari kerja berusia tua lebih cenderung berbohong tentang: usia mereka - seperempat (26%) dari responden berusia 45 tahun ke atas yang pernah berbohong di CV, berbohong tentang usia mereka, dibandingkan dengan 16% responden berusia di bawah 44 tahun; lamanya masa kerja mereka di suatu pekerjaan (37% dari responden berusia 45 tahun ke atas dibandingkan 29% responden berusia di bawah 45 tahun); dan gaji mereka saat ini (28% dibandingkan 21%).

Colin Marson, CEO YouGov APAC, berkomentar, “Temuan riset Omnibus YouGov terbaru mungkin mengejutkan bagi beberapa pemberi kerja dan rekruiter, yang telah lama mengandalkan CV sebagai sarana utama untuk mempersempit daftar kandidat. Dengan mengingat potensi dan kemampuan teknologi yang tengah berkembang, rekruiter mungkin harus mencari model rekrutmen yang lebih beragam dan terintegrasi untuk memastikan bahwa perusahaan mendapatkan kandidat terbaik - dan paling jujur (!) di masa mendatang.”

*Data dikumpulkan secara online dari 1 hingga 21 Agustus 2017 melalui panel YouGov yang diikuti lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia. Data dibobot agar mewakili populasi online. Ukuran sampel: Asia Pasifik (n = 9.241; Australia: 921; Tiongkok: 1.014; Hong Kong: 1.019; Indonesia: 1.072; Malaysia: 1.092; Filipina: 1.047; Singapura: 1.044; Thailand: 1.019; Vietnam: 1.013)