86% perempuan Indonesia mengatakan nyeri haid mempengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja

86% perempuan Indonesia mengatakan nyeri haid mempengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja
Oleh

Riset YouGov mengungkapkan hanya 59% dari responden yang pekerjaannya terkena dampak dari nyeri haid telah memberi tahu pemberi kerja mereka

Culture Machine, sebuah perusahaan yang berbasis di Mumbai menjadi tajuk utama baru-baru ini karena menawarkan kesempatan kepada para karyawan perempuan untuk mengambil cuti pada hari pertama haid. 

Sebanyak 90% perempuan Indonesia mengatakan bahwa mereka pernah mengalami nyeri haid, dan di antara mereka yang pernah mengalami nyeri haid dan bekerja, 87% mengatakan bahwa nyeri haid memengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja.

Tetapi, hanya 59% perempuan Indonesia yang kinerjanya terkena dampak nyeri haid yang mengakui hal tersebut kepada pemberi kerja mereka. Seperlima (22%) memberi alasan lain kepada pemberi kerja untuk masalah yang sebenarnya disebabkan oleh nyeri haid, sedangkan 21% mengatakan bukan keduanya (sebagian besar dari kelompok ini tidak akan memberi tahu pemberi kerja bahwa mereka merasa tidak enak badan).

 

Bagaimana nyeri haid membuat kaum perempuan merasa lebih sulit untuk bekerja?

Lebih dari separuh (59%) mengatakan bahwa nyeri haid memengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja karena membuat mereka lebih sulit untuk berkonsentrasi. Sekitar seperempat (26%) harus mengambil rehat singkat karena nyeri tersebut, dan seperempat (27%) harus pulang lebih awal (16%) atau mengambil cuti sehari (11%) karena nyeri haid.

Masyarakat lambat mengakui bahwa nyeri haid bisa menjadi masalah signifikan bagi para perempuan pekerja, meskipun nampaknya sikap ini mulai berubah. Selain tindakan yang diambil oleh Culture Machine, negara-negara termasuk Korea Selatan, Taiwan, Indonesia, dan Jepang memiliki undang-undang yang mengizinkan perempuan untuk mengambil cuti ketika sedang menstruasi (meskipun cuti tiga hari setahun karena nyeri haid di Taiwan adalah yang paling banyak). 88% perempuan Indonesia mendukung upaya semacam itu.

*Data dikumpulkan secara online dari 25 Agustus hingga 7 September 2017 melalui panel YouGov yang diikuti lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia. Data dibobot agar mewakili populasi online. Ukuran sampel: (Indonesia n = 1.012)