Mode cepat: 3 dari 10 orang Indonesia menyingkirkan pakaian setelah mengenakannya hanya sekali

Mode cepat: 3 dari 10 orang Indonesia menyingkirkan pakaian setelah mengenakannya hanya sekali
Oleh

Penelitian YouGov baru juga mengungkap satu dari enam milenial menyimpan pakaian mereka selama kurang dari setahun sebelum menyingkirkannya

Mode cepat telah mentransformasikan cara kita berbelanja. Kelahiran mode yang lebih mudah diakses dan terjangkau berarti bahwa konsumen berbelanja lebih sering daripada di masa lalu. Jumlah busana yang dibeli oleh pembelanja biasa tiap tahun tumbuh sebesar 60% antara 2000 dan 2014 saja. Dengan lini-lini baru masuk pasar setiap minggu, konsumen tidak lagi perlu menunggu musim berubah untuk membeli tren terbaru. Rantai-rantai eceran telah hadir untuk menguasai pasar sedemikian rupa sampai-sampai raksasa mode cepat H&M kini bernilai dua kali Chanel.

Sementara banyak orang menyambut revolusi mode ini, kecelakaan seperti tragedi Rana Plaza dan tuduhan eksploitasi telah membelit merek-merek populer seperti Zara, yang memunculkan pertanyaan terhadap etika industri ini. Para kritikus juga telah menyorot dampak pada lingkungan yang dibawa merek-merek mode cepat, yang merangsang permintaan terhadap pakaian murah dan mudah buang yang produksinya padat karbon dan sering berakhir di tempat pembuangan sampah.

Penelitian Omnibus YouGov terbaru mengungkap besarnya limbah pakaian di Indonesia. Penelitian menemukan bahwa dua per tiga orang dewasa Indonesia (66%) membuang pakaian pada suatu saat di tahun lalu dan seperempat (25%) menyingkirkan lebih dari sepuluh potong pakaian di tahun lalu.

Tiga dari sepuluh (29%) menyingkirkan sepotong pakaian setelah mengenakannya hanya sekali dan, di tahun lalu saja, 15% sudah menyingkirkan paling sedikit tiga potong yang mereka kenakan hanya sekali.

41% milenial membeli paling sedikit setengah pakaian yang mereka miliki dalam 12 bulan terakhir

Mode adalah bisnis besar di Indonesia, dengan satu dari sepuluh orang yang dijajaki pendapatnya (9%) menaksir bahwa mereka memiliki lebih dari 100 busana (di luar pakaian dalam atau aksesori). Milenial (orang-orang berusia antara 16 dan 34 tahun) mempunyai proporsi pakaian baru tertinggi; 41% milenial mengatakan bahwa mereka membeli paling sedikit setengah pakaian yang mereka miliki di tahun lalu saja. Ini dibandingkan dengan 17% generasi ledakan bayi (orang-orang berusia 55 tahun atau lebih) yang mengatakan hal yang sama.

 

Milenial juga lebih mungkin menyingkirkan pakaian daripada generasi-generasi yang lebih tua. Hampir satu dari lima milenial (17%) mengatakan bahwa, secara umum, mereka menyimpan pakaian selama kurang dari setahun sebelum menyingkirkannya. Hanya 10% generasi ledakan bayi mengatakan hal yang sama.

Satu dari dua puluh milenial pernah membakar pakaian yang tidak diinginkan lagi

Sementara melungsurkan pakaian yang tidak diinginkan kepada teman/keluarga dan memberikannya ke badan amal adalah hal lazim bagi orang Indonesia (dilakukan oleh 66% dan 50% masing-masing kelompok responden), generasi yang berbeda juga menyingkirkan secara berbeda pakaian yang tidak lagi diinginkan.

Milenial tiga kali lebih mungkin untuk menjual pakaian yang tidak lagi diinginkan di internet (12% melakukannya, sementara 4% generasi ledakan bayi yang pernah), dua kali lebih mungkin mendaur naik (yakni, menggunakan pakaian lama untuk membuat busana baru) – dilakukan oleh 10% milenial dan 5% generasi ledakan bayi, dan dua kali lebih mungkin mendaur ulang (18% milenial melakukannya, sementara hanya 9% generasi ledakan bayi yang pernah).

Satu dari dua puluh milenial juga pernah membakar pakaian yang tidak diinginkan lagi (lima kali lipat dari 1% generasi ledakan bayi yang berbuat demikian).

Seperlima milenial menyingkirkan pakaian karena bosan mengenakannya

Alasan terpopuler untuk menyingkirkan pakaian adalah karena tidak lagi pas, yang dianggap oleh 61% sebagai pembenar untuk menyingkirkan. Alasan lazim lainnya untuk menyingkirkan pakaian adalah karena rusak (dipilih oleh 38%) dan karena sobek (dipilih oleh 32% responden).

Namun, milenial lebih mungkin menyingkirkan pakaian karena selera berubah. Seperlima milenial (21%) menyingkirkan pakaian karena “bosan mengenakannya”, sementara hanya 16% generasi ledakan bayi yang mengemukakan hal itu.

Kepala Omnibus YouGov, Jake Gammon, berkomentar. “Merek-merek mode cepat sangat ingin menyingkirkan label yang tidak berlanjut. Namun, sekalipun berbagai prakarsa daur ulang oleh label-label terkemuka, survei ini menyorot betapa banyak pakaian menjadi limbah setiap tahun di Indonesia. Dengan memandang ke depan, ada tren mencemaskan di kalangan milenial; kecenderungan mereka untuk menyingkirkan pakaian pada laju yang lebih cepat daripada generasi-generasi yang lebih tua mengisyaratkan bahwa ada pertempuran yang makin sengit di masa depan bagi mereka yang ingin menangani langsung masalah ini.”

Gambaran besar

Pada tingkat kawasan, konsumen Vietnam dan Tiongkok paling mungkin menyimpan pakaian selama kurang dari setahun sebelum membuangnya, dengan masing-masing 27% dan 23% melakukan hal itu. Sebaliknya, orang Australia, Hong Kong, dan Singapura paling kurang mungkin menyimpan pakaian selama kurang dari setahun – masing-masing hanya 4%, 6%, dan 6% yang mengatakan hal itu.

Akan tetapi, di tahun lalu, orang Thai paling mungkin menyingkirkan lebih dari tiga potong pakaian yang telah dikenakan hanya sekali (17% melakukannya), sementara konsumen Tiongkok yang paling kurang mungkin (8% yang melakukan). Di ujung lain timbangan, sebanyak 25% orang Filipina, 21% orang Malaysia, dan 21% orang Indonesia tidak membuang satu potong pakaian pun tahun lalu.

*Data dikumpulkan secara daring oleh Omnibus YouGov antara 20 dan 30 Oktober 2017 dari 7.439 responden di Indonesia. Hasil-hasil mewakili penduduk daring dewasa.

Sumber gambar: Getty Image