Tidak ada permintaan untuk daging imitasi

Tidak ada permintaan untuk daging imitasi
Oleh

Hanya sepertiga masyarakat yang 'kemungkinan akan memakan' daging buatan yang dikembangkan di laboratorium

Banyak kemajuan yang telah dibuat dalam daging buatan laboratorium sebagai sarana untuk memenuhi semakin meningkatnya permintaan akan produk daging. Industri ini bahkan telah menarik dukungan dari para filantropis terkenal seperti Bill Gates dan Richard Branson, yang percaya bahwa membudidayakan produk semacam itu dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, kesejahteraan hewan dan kesehatan manusia yang timbul akibat produksi daging konvensional.

Riset baru YouGov mengungkap bagaimana sebenarnya pendapat masyarakat tentang daging buatan. Riset ini menemukan bahwa beberapa konsumen melihat manfaat dari teknologi tersebut, dan mengakui potensinya untuk mengatasi masalah etika dan lingkungan dari produksi daging. Manfaat yang dipahami secara luas adalah bahwa daging buatan mencegah pembunuhan hewan (36% percaya akan hal ini), berkontribusi pada ketahanan pangan yang lebih besar (34%), dan berpotensi mengakhiri kelaparan dunia (31%).

Namun, masyarakat memiliki kekhawatiran, terutama tentang potensi efek samping dari daging buatan. Hampir dua pertiga konsumen (62%) mengkhawatirkan hal ini dan 39% khawatir bahwa daging buatan bisa berbahaya. Beberapa responden juga menentang prinsip dasar di balik pengembangan ini; 49% khawatir bahwa daging ini tidak alami.

Kaum perempuan lebih ragu-ragu terkait daging buatan dibandingkan kaum laki-laki

Empat dari sepuluh orang dewasa di Indonesia (42%) mengatakan mereka 'mungkin tidak akan memakan' daging buatan ketika diminta untuk membayangkan bahwa daging ini tersedia secara komersial. Sepertiga (33%) 'mungkin akan memakan' daging ini, sementara 25% belum memutuskan.

Kaum perempuan lebih ragu-ragu dibandingkan kaum laki-laki dalam hal memakan daging buatan. Empat perlima laki-laki (80%) memiliki keyakinan kuat apakan akan memakan atau tidak memakan daging ini, dan hanya dua pertiga (69%) perempuan yang mengatakan hal yang sama.

Konsumen Vietnam lebih terbuka untuk memakan daging buatan

Dibandingkan dengan kawasan yang lebih luas, orang Indonesia sejalan dengan orang-orang di Asia Pasifik yang mengatakan bahwa mereka mungkin akan memakan daging buatan (33% orang Indonesia mengatakan demikian, dibandingkan dengan rata-rata regional sebesar 32%). Konsumen Vietnam paling mungkin mengatakan bahwa mereka akan mencoba daging tersebut (52% mengatakan demikian), diikuti oleh konsumen Thailand (34%). Sebaliknya, hanya seperempat konsumen Malaysia (25%) dan Tiongkok (26%) yang mengatakan bahwa mereka akan mencoba daging tersebut; yang terendah di antara sembilan negara yang disurvei.

Mengomentari temuan tersebut, Kepala Omnibus YouGov, Jake Gammon, mengatakan, "Para pelopor daging buatan telah bekerja keras untuk menurunkan biaya produksi agar produk semacam itu lebih bisa diakses oleh konsumen. Namun, riset ini menunjukkan bahwa ada satu rintangan terakhir yang masih harus diatasi oleh para produsen... permintaan konsumen. Meskipun sudah dibicarakan secara luas, konsumen nampaknya masih skeptis dengan daging buatan. Kecuali jika ketakutan mereka diatasi dan mereka lebih jelas tentang potensi manfaat dari teknologi tersebut, masih ada tantangan berat bagi para produsen ke depannya."

*Data dikumpulkan secara online oleh YouGov Omnibus antara 5 hingga 12 Desember 2017 di antara 1.002 responden di Indonesia. Hasilnya mewakili penduduk dewasa.

Sumber foto: Getty Image